Safe and SecureUpdate News

Mengapa Tabrakan Beruntun Sering Terjadi di Lajur Kanan Jalan Tol? Ini Penyebabnya

Tabrakan beruntun di lajur kanan jalan tol sering dipicu tidak terjaganya jarak aman dan salah penggunaan lajur kanan

Tabrakan beruntun yang kerap terjadi di lajur kanan jalan tol ternyata bukan hanya dipicu oleh kecepatan kendaraan yang tinggi, tetapi juga karena kebiasaan pengemudi yang tidak menjaga jarak aman dan salah menggunakan lajur kanan.

Fenomena ini berulang kali terjadi di sejumlah ruas jalan tol di Indonesia. Ketika satu kendaraan melakukan pengereman mendadak, kendaraan di belakangnya sering kali tidak memiliki cukup waktu dan jarak untuk mengantisipasi sehingga tabrakan beruntun pun sulit dihindari.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengatakan potensi terjadinya tabrakan beruntun memang lebih besar di lajur kanan jalan tol karena kendaraan bergerak dengan kecepatan yang relatif lebih tinggi dibandingkan lajur lainnya. Namun, kecepatan bukan menjadi satu-satunya penyebab.

“Kemampuan pengemudi di Indonesia dalam mengantisipasi situasi di jalan masih relatif rendah,” ujar Sony.

Menurutnya, sebagian besar pengemudi juga tidak menerapkan aturan jarak aman tiga detik dengan kendaraan di depannya. Padahal, semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin panjang pula jarak yang dibutuhkan untuk melakukan pengereman dengan aman.

Sebagai contoh, kendaraan yang melaju dengan kecepatan 100 kilometer per jam membutuhkan jarak aman yang jauh lebih panjang dibandingkan kendaraan yang melaju pada kecepatan 60 kilometer per jam. Ketika pengemudi terlalu dekat dengan kendaraan di depannya, waktu untuk bereaksi menjadi sangat terbatas apabila terjadi pengereman mendadak.

Kebiasaan tidak menjaga jarak aman inilah yang kemudian menjadi penyebab utama terjadinya efek domino dalam tabrakan beruntun. Ketika kendaraan pertama mengerem, kendaraan kedua tidak sempat menghindar dan menabraknya. Selanjutnya, kendaraan ketiga menabrak kendaraan kedua dan begitu seterusnya.

Read More  Qwen3 Generasi Baru AI Mengerti Bahasa Jawa, Minangkabau, dan Sunda

Selain masalah jarak aman, penggunaan lajur kanan yang tidak sesuai peruntukannya juga menjadi faktor yang sering memicu kecelakaan. Masih banyak pengendara yang menganggap semua lajur di jalan tol memiliki fungsi yang sama. Padahal, lajur kanan diperuntukkan bagi kendaraan yang bergerak lebih cepat dan digunakan untuk mendahului kendaraan lain.

Ketika kendaraan melaju lambat di lajur kanan atau melakukan lane hogging, arus lalu lintas menjadi terganggu. Kendaraan yang berada di belakang terpaksa melakukan pengereman mendadak atau bahkan berpindah lajur untuk mendahului dari sebelah kiri yang justru lebih berisiko menyebabkan kecelakaan.

Korlantas Polri sebelumnya juga mengingatkan bahwa perilaku menahan lajur kanan dapat menciptakan penumpukan kendaraan dan memaksa pengendara lain melakukan manuver yang berbahaya.

Aturan mengenai penggunaan lajur kanan sebenarnya telah diatur dalam Pasal 108 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta Pasal 41 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol. Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa lajur sebelah kanan hanya diperuntukkan bagi kendaraan dengan kecepatan lebih tinggi, kendaraan yang akan berbelok kanan, mengubah arah, atau mendahului kendaraan lain.

Karena itu, keselamatan berkendara di jalan tol tidak hanya ditentukan oleh kepatuhan terhadap batas kecepatan, tetapi juga kedisiplinan dalam menjaga jarak aman dan memahami fungsi setiap lajur lalu lintas.

Pengemudi disarankan untuk selalu menerapkan aturan tiga detik dengan memilih objek tetap di tepi jalan sebagai patokan. Ketika kendaraan di depan melewati objek tersebut, hitung tiga detik sebelum kendaraan yang dikemudikan melewatinya. Jika waktu yang dibutuhkan kurang dari tiga detik, berarti jarak kendaraan terlalu dekat dan perlu dikurangi kecepatannya.

Lajur kanan memang dirancang untuk membantu kelancaran arus kendaraan yang bergerak lebih cepat. Namun, apabila digunakan secara tidak tepat dan tanpa menjaga jarak aman, lajur ini justru menjadi lokasi yang paling rentan memicu tabrakan beruntun di jalan tol.

Back to top button